SP Lakukan Kunjungan ke D inas Pariwisata Riau

SP (Strategi Pengembangan) merupakan salah satu divisi yang ada LPII (Lembaga Pengkajian Ilmiah dan Informasi). Divisi ini bergerak dalam tiga hal penting yaitu relasi, advokasi, dan kewirausahaan. Tiga hal tersebut sudah mulai direlisasikan sejak awal periode. salah satu bentuk pergerakan nyata, strategi pengembangan telah melakukan kunjungan ke Dinas Pariwisata Provinsi Riau pada Kamis, 22 Februari 2018. Kunjungan ini dilakukan bertujuan untuk melakukan diskusi bersama kepala dinas pariwisata Fahmizal, ST., M.Si dengan topik pembahasan tentang pemerintah Prov. Riau yang ingin mengembangkan sektor Pariwisata berbasis budaya. Kunjungan ini sekaligus bentuk strategi menambah relasi LPII untuk menjalin hubungan baik dengan pihak lain.

Untuk mengangkat pariwisata berbasis budaya di Provinsi Riau, bukanlah hal yang mudah. Diperlukan kerja sama yang solid dari berbagai kalangan, baik para pemikir budaya, akademisi, budayawan, seniman dan masyarakat, sehingga basis ini semakin kuat. Selain itu mempromosikan aktivitas budaya di tanah ini harus dilakukan. Karena banyak masyarakat yang mempertanyakan komitmen pemprov Riau memajukan pariwisata untuk menambah pundi-pundi Pendapatan Asli Daerah (PAD). Padahal Provinsi Riau dikenal sebagai salah satu daerah penyumbang minyak dan gas (migas) terbesar di Indonesia, setelah Kalimantan.

“Sektor migas dan perkebunan di Provinsi Riau adalah sektor yang sudah mapan. Karena begitu majunya bahkan terdapat banyak masalah. Jadi untuk apa mengangkat kembali sesuatu yang sudah maju. Pemprov Riau harus memikirkan alternatif lain untuk mendorong dan memajukan perekonomian Riau sesuai dengan potensi yang ada. Alternatif itu adalah pariwisata berbasi budaya,” bebernya, Kamis (22/2).

Selanjutnya Fahmizal menjelaskan, kenapa pariwisata? Menurutnya, wisata Riau memiliki potensi dan daya tarik untuk menambah pundi-pundi Pendapatan Asli Daerah (PAD). Hal ini dibuktikan dengan secara nasional Riau mendapat juara umum anugerah pesona Indonesia dan tingkat pertumbuhan kunjungan wisatawan juga meningkat.

Riau memiliki banyak pariwisata andalan, diantaranya Pulau Rupat. Menurut, Kepala Dinas Pariwisata Riau, Fahmizal Usman, mengatakan, investor telah mengantri untuk berinvestasi di Pulau Rupat. Fahmizal mengungkapkan, kawasan pariwisata di Pulau Rupat saat ini sudah mulai berkembang dan Gubenur Riau bersama Pemkab Bengkalis juga telah mengajukan Pulau Rupat sebagai kawasan ekonomi khusus (KEK) pariwisata.

“Kalau untuk Pulau Rupat sudah kami siapkan sebagai salah satu destinasi wisata Riau untuk wilayah Pesisir. Dan Pak Gubernur juga telah mengusulkan kawasan Pulau Rupat sebagai KEK pariwisata,” ujar Kadis Pariwisata Riau, Fahmizal.

“Setelah Rupat dengan pasir putihnya, Riau juga memiliki wisata andalan lain seperti, Ombak Bono di Palalawan, Paju Jalur di Taluk Kuantan, dan Bakar Tongkang di Rokan Hilir, semakin lengkap dengan seni dan budaya di Riau yang beragam. Oleh karenanya, melalui pariwisata Riau semakin pede,” lanjutnya.

Menurutnya peningkatan pariwisata sangat membantu meningkatkan ekonomi masyarata sekitar. “Buktinya setelah kami dari dinas pariwisata memperkenalkan parieisata di Desa Teluk Jering dan Puncak Aliantan di Rohul, Negeri di Atas Awan. Hal ini kami lakukan tentunya dengan adanya aspek yang dipertimbangkan seperti, harus memiliki nilai budaya 60%, keindahan alam 30%, dan wisata buatan 10%, maka akan membuat turis tertarik untuk datang. Masyarakat berterima kasih karena dengan terkenalnya wisata daerah mereka pendapatan masyarakat sekitar tempat tersebut menjadi meningkat pesat. Hal itu bisa terjadi karena tersebut memiliki daya tarik  untuk membuat turis tertarik, sehingga dari sana masyarakat bisa memanfaatkan kesempatan tersebut sebagai lahan mencari uang, seperti berjualan makanan dan minuman, ataupun jasa penyewaan,” urainya.

Menurutnya besar PAD yang dihasilkan pariwisata tidak terlepas dari jumlah kunjungan wisatawan. Sepanjang 2017, sebanyak 101.904 wisatawan mancanegara (wisman) masuk ke Riau. Jumlah itu surplus 44.388 atau menembus 177,2 dari target 2017.

Industri pariwisata Riau memang pantas bergembira. Maklum, wisatawan yang menginap terkoreksi positif. Di tahun 2017, rata-rata lama waktu tinggal wisatawan mencapai 3,54 hari. Ini melebihi target yang sebesar 3,40 hari, apalagi kehadiran wisatawan juga memberikan transaksi perekonomian melalui pembelian oleh-oleh.

“Antara realisasi dengan target tahun 2017 sangat positif. Jumlah kunjungan wisman jauh melebihi target. Kalau dibandingkan dengan tahun 2016, selisihnya jauh. Sebab, jumlah kunjungan wisman 2016 hanya 66.130 dengan target 54,388 orang,” paparnya.

Melihat prospek yang cerah tersebut, Riau langsung mematok target 60.824 buat wisatawan mancenegara atau naik 3.308 orang untuk 2018. Kemudian buat di 2019, target di tambah lagi sebesar 64.332 orang.

Sementara itu, buat wisatawan nusantara di 2018 sipatok 6.550.120 orang, taerget ini akan terus ditambah di 2019 menjadi 6.828.150 orang. Belum lagi dengan rata-rata wisatawan lama tinggal. Targetnya menjadi 3,75 hari di 2018, untuk 2019 maka durasi menjadi 3,90 hari.

Lebih jauh dikatakan Fahmizal, kami sudah memiliki perhitungan target kunjungan wisatawan dan lama mereka tinggal di sini. Kami harus terus melakukan evaluasi. Tujuannya agar wisatawan yang datang itu lebih banyak dan mau tinggal lebih lama lagi.

“Oleh karena itu kita harus memperhatikan 3A untuk meningkatkan wisatawan. A yang pertama aktraktif yaitu menarik, wisata yang kita kenalkan haruslah memiliki daya tarik. A yang kedua akseditas, bahwa untuk menarik orang mau datang maka kita harus punya akses jalan yang bagus untuk sampai ke tempat wisata yang ditawarkan. A ketiga Amenitas adalah berbagai fasilitas di luar akomodasi yang dapat dimanfaatkan wisatawan selama berwisata di suatu destinasi. Amenitas bisa merupa fasilitas pariwisata seperti rumah akan, restoran, toko cenderamata, dan fasilitas umum seperti sarana ibadah, kesehatan, taman, dan lain-lain. Wisata Riau keren!,” tutupnya.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of